Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hukum Mengadobsi Anak ditinjau dari Pandangan Islam



Anak adalah Anugerah Terindah dalam Kehidupan kita ketika bekeluarga dan menjadi Titipan Allah SWT yang Wajib kita Nafkahi,Besarkan kearah yang baik akan tetapi tidak semua Pasangan di  Anugerahi Anak banyak Faktor yang dialami bisa karena Penyakit ataupun belum Datangnya Anugerah dari Allah SWT.

Sebagian pasangan suami istri, terutama ketika tidak memiliki keturunan, mereka akan mengambil anak untuk diadopsi. 

Anak tersebut akan diakui (diklaim) sebagai anaknya, dan sebaliknya, sang anak pun akan mengakui pasangan suami istri tersebut sebagai ayah atau ibunya. 

Lebih jauh dari itu, bisa jadi suami istri tersebut kemudian membuatkan akta kelahiran bagi sang anak hasil adopsi, dan dicatatkan bahwa anak hasil adopsi tersebut adalah anak kandungnya. 

Kemudian anak adopsi tersebut dianggap setara dengan anak kandung dari sisi mahram [1] ataupun hak mendapatkan warisan.

Adopsi Anak Budaya Jahiliyyah?

Adopsi anak termasuk di antara adat atau tradisi jahiliyah. Orang-orang jahiliyah dahulu biasa mengadopsi anak, kemudian anak angkat tersebut dianggap sebagaimana anak kandung. Anak angkat tersebut dinasabkan (di-“bin”-kan) kepada bapak angkatnya, tidak dinasabkan kepada bapak kandungnya. Juga dianggap sebagai mahramnya. Misalnya, istri dari anak angkatnya itu tidak boleh dinikahi oleh ayah angkatnya. Dalam masalah warisan, anak angkat juga berhak mendapatkan warisan. 

Inilah di antara tradisi jahiliyah. Ketika mereka melihat ada seorang anak yang secara fisik membuat mereka tertarik, mereka pun mengklaimnya sebagai anak dan dinasabkan kepada mereka (bapak angkat). Tradisi ini pun pernah dijalani oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai anak angkatnya setelah beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerdekakannya dari perbudakan. Setelah diangkat sebagai anak, Zaid pun menyebut dirinya dengan “Zaid bin Muhammad”.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata,

لقد كانوا -أيها الإخوة- يدعون الإنسان لمن تبناه، فيأتي إنسان يتبنى شخصاً له أب معروف، فيلغي اسم أبيه، وينسبه إلى نفسه، أو له أب غير معروف فيعطيه اسماً يضيفه إليه، وينسبه إلى نفسه

“Wahai saudaraku, sungguh mereka dahulu memanggil seseorang dengan nama ayah angkatnya. Ada seseorang yang mengangkat orang lain sebagai anak angkatnya, anak itu memiliki ayah kandung yang sudah dikenal. Kemudian (setelah dijadikan sebagai anak angkat), dia tutupi (hilangkan) nama ayah kandungnya, dan dia nasabkan kepada dirinya sendiri. Atau anak itu tidak diketahui siapa ayah kandungnya, kemudian dia beri nama yang dia sandarkan kepada dirinya dan dia nasabkan kepada dirinya.” (Duruus li Syaikh Muhammad Al-Munajjid, 3: 184 [Maktabah Syamilah])

Islam Berlepas Diri dari Tradisi Jahiliyyah

Tradisi jahiliyah itu pun kemudian dihapus dalam syariat Islam. Berikut penjelasan dari Al Qur’an dan Sunnah:

Menasabkan Anak Angkat pada Bapak Angkat

Allah Ta’ala dengan menurunkan ayat,

وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ ؛ ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا 

“Dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah. Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu (hamba sahayamu). Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab [33]: 4-5)

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala melarang seorang anak angkat dipanggil (dinasabkan) kepada ayah angkat mereka. Dan sungguh karena keimanan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan setelah turunnya ayat ini, “Saya (bernama) Zaid bin Haritsah.” Beliau radhiyallahu ‘anhu tidak lagi menyebut dirinya dengan Zaid bin Muhammad. Hal ini menunjukkan tingginya iman para sahabat, sehingga mudah bagi mereka untuk bersegera melaksanakan perintah Allah Ta’ala.

‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَنَّ زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ، مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كُنَّا نَدْعُوهُ إِلَّا زَيْدَ بْنَ مُحَمَّدٍ حَتَّى نَزَلَ القُرْآنُ، {ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ}

“Sesungguhnya Zaid bin Haritsah, budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dulu, tidaklah kami memanggilnya kecuali dengan nama Zaid bin Muhammad, sampai turun Al-Qur’an (yang artinya), “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 5).” (HR. Bukhari no. 4782)

Menikahi Mantan Istri dari Anak Angkat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab, setelah diceraikan oleh Zaid bin Haritsah

Menegaskan dihapusnya tradisi jahiliyah tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menikahi Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Zainab adalah mantan istri Zaid bin Haritsah. Di masa jahiliyah, menikahi mantan istri anak angkat adalah hal yang tabu (terlarang), karena sekali lagi, anak angkat dianggap sebagai anak kandung sendiri. 

Kisah menikahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab ini tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

“Maka tatkala Zaid [2] telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia (Zainab), supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri dari anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab [33]: 37) [3]

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid berkata,

وتزوج النبي صلى الله عليه وسلم زينب زوجة زيد ، وكان من أكبر العيوب في الجاهلية، أن يتزوج الإنسان زوجة ابنه بالتبني، فكان تحطيمها بتزويج زينب للنبي عليه الصلاة والسلام، لإزالة تلك العادة الجاهلية، ونسخ ذلك

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab, (mantan) istri Zaid (bin Haritsah). Pernikahan semacam itu termasuk aib besar dalam tradisi jahiliyyah, yaitu seseorang menikahi istri dari anak angkatnya. Beliau menghapus tradisi itu dengan menikahi Zainab, untuk menghilangkan adat kebiasaan jahiliyah tersebut dan menghapusnya.” (Duruus li Syaikh Muhammad Al-Munajjid, 3: 184 [Maktabah Syamilah])


Haram Adopsi Anak Ala Jahiliyyah

Dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، أَوِ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا، وَلَا عَدْلًا

“Siapa saja yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah.” (HR Muslim no. 3314 dan 3373)

Diriwayatkan dari sahabat Sa’ad bin Abu Waqqash, beliau berkata, “Kedua telingaku mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

مَنِ ادَّعَى أَبًا فِي الْإِسْلَامِ غَيْرَ أَبِيهِ، يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barangsiapa dalam Islam mengklaim orang lain sebagai bapaknya, padahal dia bukan bapaknya, dan dia juga mengetahui bahwa dia bukan bapaknya, maka surga menjadi haram baginya.” (HR. Bukhari no. 6766 dan Muslim no. 63. Lafadz hadits ini milik Muslim.)

Juga terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلَّا كَفَرَ، وَمَنِ ادَّعَى مَا ليْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا، وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Tidaklah seorang laki-laki yang mengklaim orang lain sebagai bapaknya, padahal ia telah mengetahuinya (bahwa dia bukan bapaknya), maka ia telah kafir. Barangsiapa mengaku sesuatu yang bukan miliknya, maka ia bukan dari golongan kami, dan hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka.” (HR. Muslim no. 61)

Berkaitan dengan lafadz hadits di atas “maka dia telah kafir”, maka terdapat dua penjelasan ulama berkaitan dengan masalah ini. Hal ini mengingat bahwa mengklaim orang lain sebagai bapaknya adalah perbuatan maksiat, bukan perbuatan kekafiran. 

Penjelasan pertama, maksud dari “dia telah kafir” adalah benar-benar kafir, namun ini khusus bagi mereka yang menganggap halal perbuatan tersebut. Kaidah umum dalam masalah ini adalah perbuatan maksiat, akan tetap bernilai maksiat, selama pelakunya meyakini bahwa itu maksiat atau perbuatan dosa. Hal itu ditandai dengan adanya perasaan bersalah dari diri pelakunya. Adapun jika seseorang menganggap bahwa sah-sah saja melakukan perbuatan maksiat, atau meyakini bahwa itu adalah bagian dari hak asasi manusia (sehingga boleh-boleh saja melakukannya), maksiat tersebut berubah menjadi perbuatan kekafiran.

Penjelasan ke dua, yang dimaksud “dia telah kafir” adalah kufur nikmat, bukan kafir yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Hal ini karena dia telah menutupi jasa dan kebaikan ayah kandungnya sendiri yang memiliki peran lahirnya dia ke dunia, bukan ayah angkatnya tersebut. Karena anak tersebut tidak mengakui ayahnya sendiri. 

Kalau kita memaknai hadits di atas dengan penjelasan ke dua (yaitu kufur nikmat), maka ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para perempuan. 

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأُرِيتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَاليَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Diperlihatkan kepadaku neraka, dan aku tidaklah melihat pemandangan yang lebih mengerikan pada hari itu. Aku melihat mayoritas penghuninya adalah para wanita.”

Para sahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, apa sebabnya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

بِكُفْرِهِنَّ

“Dengan sebab kekafirannya.”

Para sahabat bertanya lagi, “Karena kekafiran mereka terhadap Allah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Karena mereka mengingkari (kebaikan) suami, mereka mengingkari kebaikan (orang lain). Jika Engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka bertahun-tahun lamanya, kemudian mereka melihat darimu sesuatu (satu kesalahan), maka mereka mengatakan, ‘Tidaklah aku melihat satu kebaikan pun darimu sama sekali.’” (HR. Bukhari no. 1052 dan Muslim no. 907)

Dalam hadits di atas, maksud dari perempuan melakukan kekafiran adalah karena mengingkari atau menutupi kebaikan suaminya.

Menisbatkan pada Kakek atau Buyutnya

Diperbolehkan bagi seseorang untuk menisbatkan diri kepada kakek atau buyutnya tanpa ada maksud mengingkari ayah kandungnya. 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimîn rahimahullah mengatakan,

“Jika seseorang menasabkan dirinya kepada kakeknya, buyutnya, dan seterusnya ke atas yang terkenal, tanpa mengingkari ayah kandungnya sendiri, maka hal ini tidak mengapa. Hal ini sebagaimana perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أنا ابن عبد المطلب أنا النبي ولا كذب

“Aku adalah anak ‘Abdul Muththalib, aku adalah seorang nabi, dan itu bukan suatu kedustaan.” [1]

Padahal nama beliau adalah Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil-Muththalib. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan hal ini pada perang Hunain, karena kakeknya (yaitu ‘Abdul Muththalib, pen.) lebih dikenal oleh kaum Quraisy dan lebih berpengaruh di hadapan mereka daripada ayahnya (yaitu ‘Abdullah, pen.).” (Syarh Riyadhus Shalihin, 1: 2173)

Kesimpulan dan Penutup

Kesimpulan, hadits-hadits di atas menunjukkan haramnya adopsi anak, bahkan adopsi anak termasuk perbuatan dosa besar. Karena anak yang diadopsi, dan dia tahu bahwa ayahnya itu sekedar ayah angkat, namun dia berkeyakinan bahwa dia betul-betul sebagai ayahnya, karena diperkuat pengadilan manusia (baca: akte lahir) bahwa anak ini adalah anaknya dan orang itu adalah ayahnya, maka anak tersebut telah terjerumus ke dalam maksiat. Demikian pula bagi sang ayah angkat.

Oleh karena itu, kami nasihatkan kepada diri sendiri dan juga kepada para pembaca untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam masalah ini. Bisa jadi, ketika Allah Ta’ala tidak mengkaruniakan anak kepada sebagian kita, hal itu karena Allah Ta’ala hendak menjauhkan kita dari keburukan. Di sisi lain, Allah Ta’ala hendak menguji kita untuk tetap menerima takdir dan hikmah Allah Ta’ala. 

Namun, perlu dicatat bahwa haramnya adopsi bukan berarti kita bersikap acuh dan cuek dengan anak-anak yatim atau anak terlantar. Kewajiban kita dan juga pemerintah kaum muslimin adalah memelihara, mendidik, dan mengurusi mereka agar tidak terlantar, sehingga pada akhirnya akan mendorong anak-anak tersebut untuk berbuat tidak baik atau bahkan berbuat kriminal. Juga mendidik anak-anak yatim dan terlantar tersebut dengan pendidikan Islam yang benar, sehingga mereka mengenal agamanya. Bahkan, amal ini adalah amal yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya yaitu telunjuk dan jari tengah.” (HR. Bukhari no. 6005)